Sunday, November 23, 2008

GOD Work

Hari Minggu, 23 Desember 2008, aku gosok pakaian.

Cuaca di luar sepertinya mau ujan. Waktu menunjukkan pukul 09.00 WIB.

Satu persatu pakaian aku gosok & selesaikan.

Tiba-tiba aku seperti mendapatkan pencerahan mengenai bagaimana TUHAN bekerja.

Seperti seseorang yang sedang menggosok pakaian.
TUHAN memperbaiki kehidupan seseorang.

Pakaian yang semula berantakan, lecek, tidak beraturan, melalui gosokan yang digunakan untuk merapikan pakaian, sehingga terlihat pakaian menjadi rapi & dapat digunakan.

Pakaian ibarat hidup manusia.
Lecek, lusuh, berantakan & tidak ada bentuk gambaran masalah hidup manusia.

Ketika manusia mau datang kepada TUHAN & menyerahkan TUHAN bekerja.

Gosokan yang digunakan memang panas, tetapi dari panasnya dapat merapikan pakaian yang sekusut apapun.

Hal ini menunjukkan, apa yang TUHAN lakukan memang sakit, tetapi hasilnya adalah kebaikan kepada manusia itu sendiri.

Friday, November 21, 2008

21 November 2008

Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai.
Hujan rintik - rintik selalu menyertai di setiap sore di musim hujan ini. Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor,...terdengar suara tek...tekk.. .tek...suara tukang bakso dorong lewat.
Sambil menyeka keringat..., ku hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok bakso setelah menanyakan anak - anak, siapa yang mau bakso ?
"Mauuuuuuuuu. ..", secara serempak dan kompak anak - anak asuhku menjawab.
Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya. Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini ketika saya membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya.
Yang satu disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini. "Mang kalo boleh tahu, kenapa uang - uang itu Emang pisahkan ? Barangkali ada tujuan ?"
"Iya pak, Emang sudah memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, Emang hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak Emang, mana yang menjadi hak orang lain / tempat ibadah, dan mana yang menjadi hak cita - cita penyempurnaan iman ".
"Maksudnya.. .?", saya melanjutkan bertanya.
"Iya Pak, kan agama dan Tuhan menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan sesama. Emang membagi 3, dengan pembagian sebagai berikut :
1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup>> sehari - hari Emang dan keluarga.
2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq/sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang bakso, Emang selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja.
3. Uang yang masuk ke kencleng, karena emang ingin menyempurnakan agama yang Emang pegang yaitu Islam.
Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu, untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar. Maka Emang berdiskusi dengan istri dan istri menyetujui bahwa di>> setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini, Emang harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji. Dan insya Allah selama 17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi Emang dan istri akan melaksanakan ibadah haji.
Hatiku sangat...sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si emang tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan seringkali berlindung di balik tidak mampu atau belum ada rejeki.
Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut : "Iya memang bagus...,tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang>> mampu, termasuk memiliki kemampuan dalam biaya....". Beliau menjawab, " Itulah sebabnya Pak. Emang justru malu kalau bicara soal mampu atau tidak mampu ini. Karena definisi mampu bukan hak pak RT atau pak RW, bukan hak pak Camat ataupun MUI. Definisi "mampu" adalah sebuah definisi dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri. Kalau kita mendefinisikan diri sendiri sebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri sendiri, "mampu", maka insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangannya Allah akan memberi kemampuan pada kita".
"Masya Allah..., sebuah jawaban eelegan dari seorang tukang bakso".

Tuesday, November 18, 2008

18 November 2008

Today, I'm not feeling so well.

So I'm not going to my office.

I've told my bosses that I can't be attended today, but one of my boss feels like I ignored her.

I feel a bit confuse with her.

Last time when I didn't attend, she didn't tell my big boss about my absence.

That made me dissapointed.

Today, I didn't tell her about my absence, just precaution of my last experience.

I know I was wrong, but u can't blame me for what I've done.

Monday, November 17, 2008

About mavebaim

INTRODUCTION

Siapakah mavebaim?

Is this person someone you know?

Mungkin aja, pernah ada yang kenal atau tahu mavebaim.

Aku buat blog ini sebagai represent dari hidupku & kupersembahkan kepada Ibuku tercinta, wanita terhebat yang pernah kutemui dalam hidupku.

CV

Mavebaim mbrojol pd hari Minggu Pahing, 2 September 1979.

Aku anak 1 dari 4 bersaudara, 3 lelaki, 1 perempuan

My castle is in Jatiwaringin, Pondok Gede

Office @ Bank Bumiputera cabang Soepomo, Tebet, Jakarta Selatan